Doa


Shalom saudaraku yang kekasih dalam Kristus,

Tema khotbah : Doa

Ayat Pedoman : Matius 6:29-34

6:29 : namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. 6:30 : Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? 6:31 : Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? 6:32 : Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. 6:33 : Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. 6:34 : Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."

Umumnya permintaan dalam doa kita seputar hal materi yang disebut pada ayat di atas, padahal ada hal yang lebih penting tentang doa. Doa bukanlah sulap atau sihir yang membuat Tuhan mengubah keadaan seperti yang kita mau, juga bukan cara untuk menundukkan Tuhan agar mengikuti keinginan kita. Kita harus ‘tahu diri’ mengenai siapakah kita di hadapan Tuhan. Tuhan tidak marah apabila kita tidak berdoa, tapi justru jiwa kita yang akan mengalami kekosongan.

Berdoa seharusnya berfokus kepada pribadiNya, bukanlah hanya pada berkatNya. Dalam nats Yohanes 15:7 : “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. ” Kita cenderung suka dengan kalimat : “mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Ayat tsb bila diterjemahkan secara utuh kalau ada syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi sebelum doa kita dikabulkan, yaitu kita wajib tinggal di dalam DIA dan firman-Nya juga tinggal di dalam kita.

Untuk mengikuti Firman Tuhan, kita harus memandang jauh ke depan, bukan melihat ke belakang, seperti pada nats Lukas 9:62 : “Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah." Oleh sebab itu, kita jangan lagi mengingat masa lalu dan kesalahan-kesalahan kita.

Jadi, kegiatan doa kita sesungguhnya, haruslah berhubungan dengan pribadinya Tuhan, bukan semata-mata hanya karena berkat atau janjiNya.

Dalam doa ada 2 hal penting, yaitu :

1. Communion : persekutuan dengan Allah

2. Commission : pengutusan dan pemberian tugas khusus dari Allah Dua hal tsb haruslah berjalan beriringan bagaikan dua sisi mata uang, apabila salah satunya tidak dikerjakan maka akan terjadi ketimpangan.

Dengan berdoa dan mengenal prinsip kerajaan Allah seperti pada nats Matius 6:33, maka kita harus menyadari bahwa kita tidak akan berkekurangan, oleh sebab itu kita harus menyalurkan berkat yang kita punya kepada yang lain.

Contoh pada Alkitab mengenai pribadi yang fokusnya pada Allah yaitu Sadrakh, Mesakh dan Abednego pada nats Daniel 3:16-18, 24-25 :

3:16 : Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. 3:17 : Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; 3:18 : tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." 3:24 : Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera; berkatalah ia kepada para menterinya: "Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?" Jawab mereka kepada raja: "Benar, ya raja!" 3:25 : Katanya: "Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa"

Mereka berfokus pada Allah meskipun di tengah keadaan sulit (diancam masuk dapur perapian) dan Allah menjawab iman mereka dengan mengadakan mujizat. 3 orang ini sama sekali tidak terbakar di dalam perapian dan Nebukadnezar melihat keajaiban, yaitu : munculnya orang keempat yang adalah Tuhan, seperti pada nats Daniel 3:24-25.

Berkat atau mujizat terjadi dari pihak Allah, sehingga doa bukan sekedar menagih janjiNya saja, tetapi kita harus sungguh-sungguh berfokus pada pribadi Allah yang penuh kasih seperti pada Roma 6:14 : “Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.”

Tuhan Yesus memberkati.

Sumber : Khotbah ibadah GSY pukul 09:30 WIB Hari / Tanggal : Minggu, 17 Juni 2018 Pengkhotbah : Pdt. Halim Wiryadinata ( diringkas oleh : Vera Hartini )


Archive