Kuasa Perkataan


Shalom saudaraku yang kekasih dalam Kristus,

Tema khotbah : Kuasa Perkataan

Perkataan kita memiliki peranan penting. Dalam kitab Kejadian, kita mengetahui bahwa langit dan bumi terjadi karena FirmanNya. Oleh karena itu, kita harus menjaga perkataan kita dan bisa menahan diri untuk tidak mengutuk orang yang kita kasihi.

Beberapa hal mengenai perkataan kita, yaitu :

a. Kuasa perkataan menentukan hidup di dunia Amsal 18 :20-21, “Perut orang dikenyangkan oleh hasil mulutnya, ia dikenyangkan oleh hasil bibirnya. Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.”

1 Petrus 3:10, “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.”

Amsal 21:23, “Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran.”

b. Mulut kita menentukan kehidupan kita saat berada di kekekalan Matius 12:36-37, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.”

Yakobus 1:26, “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.”

c. Kuasa perkataan kita bisa membangun atau menghancurkan Lukas 6:45, “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya."

Kita jangan hanya bisa berbahasa Roh tapi tidak tahu cara membangun manusia, seperti nats 1 Korintus 14 : 4, “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat.”.

Untuk membawa keharuman pengenalan akan Tuhan, kita tidak bisa mentolerir bahwa jahat di mulut tetapi baik di hati, karena apa yang keluar dari mulut berasal dari hati kita. Orang yang pahit hati akan melukai orang lain dengan perkataannya. Kita tidak bisa memaksa sekeliling kita untuk bertindak seperti maunya kita, oleh karena itu kita harus punya hati yang cepat mengampuni dan membebaskan diri kita dari kepahitan. Kita harus hidup tanpa mudah terbawa perasaan agar kita tidak bisa mudah sakit hati.

Orang yang perkataannya menyenangkan akan membuat keluarganya bahagia, seperti nats Amsal 16:24 : “Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.”

Beberapa orang sudah cukup lelah berjuang dalam menghadapi harinya, jangan lagi kita persulit dengan cekcok dan kemarahan. Jangan menjadikan emosi sebagai alasan untuk berkata kotor seperti pada nats Efesus 4:29, “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.”.

Dalam mendidik anak dan menegor anak, kita tidak boleh mengutuk anak, misalnya menggunakan kata, “Dasar kamu anak nakal!!”, sebaiknya diganti dengan, ‘Anak baik tidak boleh begitu’.

Berhati-hatilah dengan lelucon Anda, seperti nats Amsal 26:18-19 : “Seperti orang gila menembakkan panah api, panah dan maut, demikianlah orang yang memperdaya sesamanya dan berkata: "Aku hanya bersenda gurau."” Lelucon bisa merendahkan citra diri orang, padahal kita harus menghargai semua orang. Nats ini perlu direnungkan : Amsal 18:23, “Orang miskin berbicara dengan memohon-mohon, tetapi orang kaya menjawab dengan kasar.”

Kemarahan tidak akan mengerjakan hal yang baik, oleh sebab itu kita harus berhati–hati sebelum berkata-kata saat marah. Nats Yakobus 1:20 : “sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.”

Pada akhirnya sebelum berkata-kata, kita harus berpikir THINK dahulu, yg kepanjangan dari:

T : Is it True? H : Is it Helpful? I : Is it Inspiring? N : Is it Necessary? K : Is it Kind?

Kita harus memeriksa perkataan kita terlebih dahulu supaya membawa damai atau kelegaaan seperti pada nats Amsal 15:1 : “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah” dan Matius 5:9 : “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

Tuhan Yesus memberkati.

Sumber : Khotbah ibadah GSY pukul 07:00 WIB Hari / Tanggal : Minggu, 20 Mei 2018 Pengkhotbah : Pdt. Henny Kristianus ( diringkas oleh : Judy Gunarto)


Archive