Tanah Perjanjian


Shalom saudaraku yang kekasih dalam Kristus,

Tema khotbah : *Tanah Perjanjian*

Ayat Pedoman : Yosua 1:6-9 1:6 : Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka. 1:7 : Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi. 1:8 : Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. 1:9 : Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi."

Bicara mengenai Tanah Perjanjian, kita berpikir di sana kita akan hidup tenang dan nikmat untuk menikmati janjiNya Tuhan. Prinsip kerajaan Surga seperti halnya Tuhan melihat kita sebagai pengelola bukan pemilik, kita harus sadar bahwa semua yang kita miliki adalah milik Tuhan yang harus kita kelola. Dalam kisah Matius 25 mengenai talenta, Tuhan menyerahkan hak kepemilikan kepada kita tapi Dia akan mengadakan perhitungan, berarti kita mengelola apa yang Tuhan berikan kepada kita lalu mempertanggungjawabkannya kepadaNya. Di Tanah Perjanjian, kita harus bertindak sebagai pengelola.

Untuk naik level dalam hidup ini, kita perlu mengelola. Dalam nats Yosua 5:7-9 : “Tetapi anak-anak mereka yang telah dijadikan-Nya ganti mereka, mereka itulah yang disunat Yosua, sebab mereka belum bersunat, karena mereka tidak disunat dalam perjalanan. Setelah seluruh bangsa itu selesai disunat, maka tinggallah mereka di tempatnya masing-masing di perkemahan itu, sampai mereka sembuh. Dan berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: "Hari ini telah Kuhapuskan cela Mesir itu dari padamu." Itulah sebabnya nama tempat itu disebut Gilgal sampai sekarang.”, diceritakan bahwa generasi muda bangsa Israel yang masuk Tanah Perjanjian. Generasi tua bangsa Israel tidak bisa masuk karena ada cela Mesir, yang mereka masih terus melakukan gaya hidup tsb selama di Mesir. Mereka tidak bisa kelola, karakter mereka manja walaupun Tuhan selalu menyertai mereka.

Saat ini kita hidup dalam zaman kasih karunia, apabila kita tidak meninggalkan paradigma lama (cela Mesir), maka kita tidak bisa melihat Tanah Perjanjian. Kita harus makin cakap dalam mengelola hidup ini. Memang Tuhan selalu menyertai kita, tapi tidak akan mengalami janji Tuhan untuk selalu naik apabila kita masih memakai paradigma lama.

Dalam nats Yosua 5:11-12 : “Lalu pada hari sesudah Paskah mereka makan hasil negeri itu, yakni roti yang tidak beragi dan bertih gandum, pada hari itu juga. Lalu berhentilah manna itu, pada keesokan harinya setelah mereka makan hasil negeri itu. Jadi orang Israel tidak beroleh manna lagi, tetapi dalam tahun itu mereka makan yang dihasilkan tanah Kanaan.”

Ketika manna berhenti diberikan, merekapun makan dari hasil menanam di Tanah Perjanjian. Untuk mencapai level yang lebih tinggi, kita jangan punya mental yang meminta-minta kepada Tuhan. Belajar mengelola dengan baik apapun yang Tuhan berikan. Hal kecil yang dititipkan Tuhan kepada kita, apabila kita kelola bermitra denganNya, hal tsb bisa menjadi perkara besar. Makin naik level, makin besar pula berkat dan nikmatnya. Yosua berkata, “Kuatkan dan teguhkan hatimu”, artinya : kita harus meninggalkan paradigma lama dan terus bergerak, termasuk jangan mengingat kejayaan masa lalu (monumental).

Dalam nats Yosua 1:8 tsb, kita harus merenungkan firmanNya supaya tidak salah melangkah. Dalam nats Kisah Para Rasul 3:19 : ”Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan,”. Apabila sampai salah jalan, segera berbalik dan jangan menunda, apabila kita tidak taat maka kita sendiri yang mengalami kerugian. Juga, jaga perkataan kita agar tetap sesuai Firman Tuhan, seperti nats Yakobus 3:5 : “Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.” Lalu nats Roma 10:10 : “Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.” Jangan mudah tawar hati seperti yang disebut dalam Yosua 1:9 dengan cepat mengampuni.

Akhirnya, supaya kehidupan kita berjalan semaksimal mungkin, kita harus membaca, merenungkan dan melakukan Firman Tuhan yang menjadi petunjuk kita. Rancangan Tuhan untuk kita semua dituang dalam Firman Tuhan. Apabila ada ketidakberesan dalam hidup kita, segeralah datang ke gereja atau komunitas yang bisa menguatkan dan mengembalikan kita untuk hidup sesuai dengan FirmanNya.

Tuhan Yesus memberkati.

Sumber : Khotbah ibadah GSY pukul 09:30 WIB Hari / Tanggal : Minggu, 18 Maret 2018 Pengkhotbah : *Pdt Billy Lantang* ( diringkas oleh : Vera Hartini)


Archive