Perhatikan Hidup Kita dengan Seksama


Shalom saudaraku yang kekasih dalam Kristus,

Tema khotbah : Perhatikan Hidup Kita dengan Seksama

Ayat pedoman : Efesus 5 : 15 : “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif”

Ini adalah suatu himbauan dari Tuhan agar kita sungguh-sungguh memperhatikan hidup kita dengan seksama. Apapun yang kita perbuat, pikirkan dan kerjakan maka lakukanlah itu dengan seksama dan tidak bercacat di hadapan Tuhan.

Firman Tuhan berkata hiduplah sebagai orang yang arif dan jangan seperti orang yang bebal. Hidup sebagai orang bebal maka tidak akan mendapatkan apapun yang terbaik dalam hidupnya atau tidak akan mengerjakan segala sesuatu secara maksimal dalam hidupnya karena kebebalannya itu. Apabila kita hidup secara arif, maka kita akan lihat kemuliaan demi kemuliaan yang Tuhan nyatakan dalam hidup kita.

Apa artinya “ARIF” ? Apa artinya “BEBAL” ?

Arif berarti menurut kamus bahasa Indonesia sebagai : bijaksana, cerdik, pandai, paham, berilmu dan mempunyai pengertian.

Bebal berarti menurut kamus bahasa Indonesia sebagai : sukar mengerti, tidak tanggap, tidak mau berubah, menolak ajaran dan nasehat.

Apakah sepanjang tahun 2015 ini, kita sudah hidup sebagai orang yang bijaksana ? Atau malah hidup sebagai orang yang bebal ? Sudahkah kita mengerti dan mengerjakan perkara yang menyenangkan hati Tuhan sepanjang tahun ini ? Perhatikan hidup kita selama ini, apakah kita hidup dengan arif atau bebal ?

Mungkin, selama ini kita sudah mendengar ratusan atau ribuan kotbah, tetapi apabila kita tidak tergerak dan melakukannya maka kitapun termasuk orang yang bebal.

Bagaimana caranya supaya kita berbalik dari kebebalan menuju kearifan serta berkenan di hadapan Tuhan?

Jawabannya ada pada kitab Mazmur 101 : 1-4 : 101:1 : Mazmur Daud. Aku hendak menyanyikan kasih setia dan hukum, aku hendak bermazmur bagi-Mu, ya TUHAN. 101:2 : Aku hendak memperhatikan hidup yang tidak bercela: Bilakah Engkau datang kepadaku? Aku hendak hidup dalam ketulusan hatiku di dalam rumahku. 101:3 : Tiada kutaruh di depan mataku perkara dursila; perbuatan murtad aku benci, itu takkan melekat padaku. 101:4 : Hati yang bengkok akan menjauh dari padaku, kejahatan aku tidak mau tahu.

Dari nats tsb, kita belajar dari Daud untuk berani menunjukkan identitas diri kita baik di hadapan Tuhan maupun di hadapan sesama manusia.

Identitas kita harus jelas di hadapan Tuhan. Kita harus berani tampil beda dalam artian yang positif, tidak mudah mengikuti arus dunia. Dengan kata lain, hidup kita harus menjadi terang bagi sesama manusia.

Apakah kita mulai saat ini mau hidup secara arif lalu melihat kemuliaan Tuhan dinyatakan dalam hidup kita?

Oleh sebab itu, hiduplah dengan identitas yang jelas di hadapan Tuhan dan sesama manusia. Perhatikanlah gaya hidup kita dan pergaulan kita. Dengan siapa kita bergaul, maka itulah yang kelak menentukan keberhasilan / kegagalan dalam hidup kita. Alkitab telah berkata bahwa pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.

Hidup secara arif berarti kita harus memiliki keberanian untuk memisahkan diri dari pergaulan atau suasana lingkungan yang tidak sesuai dengan firman Tuhan.

Tuhan mau kita bisa hidup secara arif dan bijaksana, setelah itu : lihatlah, Tuhan akan memberkati kita dengan berkat-berkat yang tak terduga bahkan berkat yang terbaik bagi kita.

Tuhan Yesus memberkati !

Sumber : Khotbah ibadah GSY pukul 07:00 WIB Hari / Tanggal : Minggu, 29 November 2015 Pengkhotbah : Pdt Yofi Handyawan ( diringkas oleh : Yudi Goenarto )


Archive